Arwana Hijau Makin Ditinggalkan*
Laporan Wartawan Kompas Lusianus Andreas Sarwono
MANGGAR, KOMPAS -- Hasrat masyarakat Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan
Bangka Belitung untuk membudidayakan ikan arwana hijau semakin menurun.
Ikan habitat asli Belitung Timur ini kalah bersaing dengan ikan arwana
super red yang banyak dikembangkan di Kalimantan.
Harga anakan arwana hijau ukuran 8-10 centimeter (cm) yang sebelumnya
mencapai Rp 220.000 per ekor kini jatuh di kisaran Rp 100.000 per ekor.
Harga itu jauh lebih rendah dibandingkan harga anakan arwana super red
yang mampu menembus Rp 5 juta per ekor.
Rizall Hadi (50), penangkar arwana hijau yang masih bertahan menyatakan,
Jakarta yang menjadi tujuan pemasaran kini lebih banyak dibanjiri bibit
arwana super red. Sekarang budidaya arwana hijau sedang benar benar
turun," ucap Rizall, Jumad (4/5).
Awainya la memiliki 250 induk arwana hijau yang dikembangkan di dua
kolam bekas galian tambang timah yang berlokasi di Gantung, Belitung
Timur. Induk arwana hijau tersebut dibeli dari masyarakat sekitar dengan
harga Rp 5.000-Rp 10.000 per ekor.
Setiap tahun, Rizali mampu menjual 30-an ekor anakan dari setiap
induknya. Kadang la tak perlu bersusah payah mengirimkan anakan ke
Jakarta karena langsung dihampiri pembeli. "Tahun 2002 terjadi serangan
hama keong mas yang membuat banyak ikan arwana saya mati. Beberapa hari
lalu induk saya pindahkan ke kolam lain. Saat ini jumlah induk paling
banyak 100 ekor," ucap Rizali dengan lesu.
Kepala Dinas Kelautan daan Perikanan Belitung Timur Khaidir Lutfi
menyatakan pola budidaya arwana hijau di masyarakat masih dilakukan
secara individual. Pihaknya juga belum memberikan pelatihan tentang
budidaya arwana hijau secara intensif. Pemijahan arwana hijau sepenuhnya
masih alami. Ini karena masyarakat belum tahu cara memijahkannya. Sampai
sekarang kami juga belum memiliki catatan pasti produksi bibit arwana
hijau," ujar dia.
Khaidir memperkirakan saat ini hanya ada tiga penangkar arwana hijau,
termasuk Rizall yang ada di Belitung Timur. Modal yang besar serta makin
sulitnya memperoleh induk menjadi hambatan lain bagi masyarakat untuk
menangkarkan arwana hijau.
sumber:
http://www.kompas.co.id/ver1/iptek/0705/04/151113.htm
BTW........green aro ini memang jarang ya di pasar?gak laku atw krn pasokannya sedikit ya?