Re: Olah Digital
Betul ,balik2 lagi masalah taste aja , masalah dull/flat ,over atau under balik2 bisa dilihat di karya berbeda dari tiap org , seperti juga ada yg suka dangdut dan ada yg suka klasik .
Intinya saya senang (imho ) dgn kejujuran realita dari sebuah foto , baik dari momentnya ,warnanya dan permainan lightingnya , sama kali pertama ikut tutoran dgn Photographer senior Darwis Triadi, hal yg mencengangkan saya adalah beliau motret hanya modal available light saja ,tanpa lampu strobe ,tanpa flash dan tanpa reflektor . Dari situ saya belajar "realita" yg lbh extreme lagi dgn cahaya seadanya utk membentuk dimensi suatu foto. Dan utk fotografer produk spt Roy Genggam pun beliau mau repot2 main lighting dan set up yg ruwet saat pemotretan utk hasil karya "asli" bukannya menyiapkan /mengatur semuanya di post processing editting bukan? Utk 0.3EV pun (yg seharusnya tinggal klik di PS) dia mau repot2 ulang set up lampu lagi dan di spot per titik lampunya . Kenapa ? saya rasa semata2 masalah prinsip fotografer saja bukan ?
Apakah sytle foto jurnalisme dan dokumentasi itu dull dan flat? perhatikan warna2 yg timbul dan skin tonenya serta perspektif dynamic range (3D) nya ,bandingkan dgn foto art digital yg ada? Pernah liat "the Afghan Girl"nya Steve McCurry? "Montana's Moon"nya Ansell Adams? The Prayernya Karl Grobl? saya rasa karya2 jurnalis tsb jauh dari kata2 dull dan flat dari segi warna dan perspektifnya.
Over dan under exposure saya rasa dalam konteks masih di 1/4 dari rule of thirds nya komposisi adalah lbh realita ktimbang skin tone yg dipaksakan krn under atau highlight yg di burn utk memaksakan turun 1-2stop di bidang lbh dari 2/3 keseluruhan, Foto2 Ansell Adam pun kalo mau diperhatikan selalu 1/5 atau 1/4nya adalah area over atau under , coba Ansell hidup di era digital sekrg dan kalo area OE/UE tersebut diedit ,akankah Ansell Adams jadi legenda spt sekarang?
|