View Single Post
Old 03-13-2009, 11:49 AM   #1
djuwanto
NAC MEMBER
 
djuwanto's Avatar
 
Join Date: Oct 2007
Location: jakarta
Posts: 4,345
Default Moral cerita : ?????

cerita dimulai dari awal sini:

Saya sudah bertunangan dengan seorang gadis ( sebut saja A ) yang memiliki segalanya yang diharapkan seorang pria. Cantik, seksi, mandiri dll. Tidak ada yang bisa membatalkan niat kami berdua, kecuali kejadian ini.

Suatu hari di hari Minggu ( biasa memang jadwal kami jalan2 berdua ), saya menjemputnya di rumah. Namun, ternyata ia sedang keluar. Setelah saya telp ternyata ia sedang ada keperluan sendiri dan baru bisa kembali 2-3 jam kemudian. Daripada saya balik, ya sudah saya tunggu dia di rumahnya.

Kebetulan karena memang sudah seperti rumah sendiri, saya bebas keluar masuk rumah ini ( bahkan punya kunci ruang depan sendiri ). Tidak ada siapapun dirumah hari ini. Keluarganya sudah merencanakan untuk ke Puncak menginap selama 2 hari ini dan nampaknya memang jadi. Bahkan pembantu mereka pun diajak turut serta.

Merasa tidak ada siapa2, saya menyalakan TV dengan suara lumayan keras dan mulai menonton untuk membuang waktu. Namun, terkejut bukan main ternyata adik sepupunya si A yang berumur lebih muda 3-4 tahun keluar dari kamar dan menyapaku.

"Loh, Rin ( bukan nama sebenarnya )...kamu ga ikutan ke Puncak "
"Ah, ga ah Mas, lagi males. Kak A lagi ke tempat temennya yang lagi sakit. Katanya sih mau nunggu ampe hasil test di RS keluar deh "
"oooo. Gapapa lah tunggu bentar. Lagian ga kemana2 kok..." jawabku sambil tersenyum santai. Rina pun duduk disofa persis disampingku.

Yang jadi masalah, Si Rina ini hanya menggunakan baju rumahnya ( yang berupa kaos tipis and celana stretch pendek banget. Untunglah saya bukan termasuk Pria yang mudah tergoda. Perlu teman2 tahu, Rina ini secantik calon saya tp terus terang urusan seksi masih unggulan dia dibanding A calonku.

Tidak begitu lama ia mulai duduk disampingku dan bercakap-cakap ringan. Entah mulai darimana, tiba2 saja dia mengaku bahwa sejak saya mampir ke rumah ini, dia jatuh hati sama saya. Hanya karena ga enak ama A aja sebagai kakaknya dia jaga jarak. "Kalau saja saya kenal duluan sama Mas....pasti saya akan memberikan lebih daripada yang kak A bisa berikan Mas " Begitu katanya persis dalam setiap katanya dengan nada lemah dan penuh harap. Setiap kata-katanya diikuti desahan lembut.

Pikiran saya mulai menerawang dan tidak sanggup menjawab perkataan polosnya itu. Masih berlagak santai, saya diam saja dan berusaha menutupi perasaan saya sendiri yang sebagai pria normal mulai bergolak. Tapi situasi ini tidak bertahan lama ketika ia mulai menggenggam tangan saya dan menariknya kedalam pangkuannya.

Jantung saya berdegup keras tp sekali lagi saya hanya berlaku seperti orang bodoh, tidak dapat menolak ataupun bertindak sedikitpun. Selang berapa lama ia berbisik tepat ditelingaku " Mas, sebelum di resmikan,... mau kan temenin Rina sebentar di kamar....demi Rina. Please....janji ga bakal saya bilang siapa-siapa kok...."

Tatapan saya kosong dan tangan saya bergetar keras. Keringat menetes perlahan mengikuti arah pikiran saya yang terganggu. 5 detik dalam diam. 10 detik dan hingga 30 detik saya tidak bisa berkata-kata.

Rina dengan senyum pengertian ( mengerti kondisi batin dan gejolak yang ada didalam sini ) berdiri dan berjalan ke kamarnya....
"Mas, kalau setuju.....Rina tunggu dikamar ya. Ga dikunci...." dan menghilang ke dalam sambil tersenyum manis. Wanginya masih tersisa disebelah sofaku ini. Pintu kamarnya bukan saja tidak dikunci, tp daun pintunya sendiri tidak tertutup rapat sehingga masih terlihat siluetnya yang merebahkan badan diranjang.

1 menit kemudian saya berdiri gemetar dan berjalan perlahan kearah pintu luar dan hampir sampai ke parkiran mobil saya ketika....Seluruh keluarga termasuk A calonku bersembunyi di taman dekat situ dan sebagian mereka terutama mertua perempuan saya menangis terharu.

"Kami memang tidak salah menyetujui kamu sebagai calon mantu kami. Selamat datang Nak, hayoo masuk lagi. Kamu sudah lulus tes kami dan kami yakin atas masa depan dan kebahagian anak kami...." Kurang lebih begitulah kata-kata samar yang masih bisa kudengarkan.

Sambil mengangguk-angguk dan ikut tersenyum sayapun kembali masuk. Sempat terdengar juga ucapan selamat dari Rina yang muncul dari pintu depan.


Moral cerita: coment dong........
djuwanto is offline   Reply With Quote