Quote:
Originally Posted by ndr33
Maaf pak, dalam bisnis barang tertiary, sudah pasti penjual pasang muka masam ketika pertama kali kita bertemu dan belum pernah ada transaksi. Lebih banyak pembeli iseng & time waster daripada good & serious buyer  Apalagi jika yang jual orang agak berumur dan owner langsung lalu yang datang anak muda tampang karyawan hehehe
Lain dengan hal nya anda jualan consumer goods yang merupakan barang lancar dan yang datang pasti belanja.
|
Tidak selalu seperti itu juga bro, dalam bisnis, bila semua typikal penjual dalam bisnis
( khususnya pedagang aro dalam contoh ini ) seperti itu, sudah tentu ini akan merugikan
bisnis dia sendiri, dia akan ditinggalkan oleh calon pembeli, apalagi calon pembeli
mempunyai banyak alternatif lain untuk mencari barang yang sama di tempat yang lain,
lebih2 dalam satu area/komplek yang sama, seluruh penjual menjual barang yang sama
juga/homogen. Gaya seperti ini yang harus diubah oleh penjual kalo mau mendapatkan
pembeli/menang dalam persaingan
Saya setuju bila penjual kadang2 meremehkan calon pembelinya dengan melihat
penampilannya ( karena saya sendiri pernah mengalaminya

), bisa juga perlakuan
seperti itu dipicu dia sering dikecewakan oleh orang yang hanya waste time dia saja
karena tidak serius membeli, ini yang menyebabkan dia beranggapan orang berikutnya
sama saja, tetapi tidak semua calon pembeli seperti itu, kita taulah harga arowana itu
( apalagi SR ) berapa, semurah-murahnya aro tidak semua orang bisa/mau membelinya.
Sebagai penjual, dia harus tau hal ini, kalo ada orang yang masuk ke gerai penjual
arowana tsb, pikiran yang harus ditanam adalah orang tsb punya niat untuk membeli
( tidak hanya sekedar iseng untuk lihat2 saja ), ya kecuali kalau arowana yang didisplay
seluruhnya tidak berkualitas ( ini tidak perlu waktu lama/tanya2 lagi, 5 menit kitanya
juga sudah keluar sendiri


), kalaupun tidak beli saat itu, mungkin karena tidak
cocok dengan harganya atau hal lainnya, mungkin next time akan kembali lagi dan
akhirnya membeli. Penjual tidak bisa men-judge "kualitas" calon pembeli tanpa
mengenalnya terlebih dahulu ( ditanya2/diajak bicara ). Ingat, pembeli adalah raja
lho, jadi dia perlu dilayani




Penting bagi penjual, bagaimana harus membuat calon pembeli menjadi seorang
pembeli/yang membeli. Hal seperti inilah yang kadang sering dilupakan oleh penjual
Percuma bila barang yang dia jual meskipun berkualitas, tetapi tidak menghasilkan
duit dan hanya menjadi barang display/pajangan saja
Teman saya dulu pernah cerita, ada bapak2 tua yang berpakaian kumuh ( tidak
parlente ) karena baru datang dari desa, masuk ke showroom mobil, dicuekin
aja sama sales counternya, sampe bapak tsb menunjukkan segepok uang tunai
ratusan juta yang dibungkus dalam tas plastik hitam dan berkata "Saya mau
beli mobil yang itu cukup tidak uangnya". Nah baru setelah itu, sang bapak dilayani
"benar-benar"




