![]() |
Sistem Kelulusan UN
Biologi = 90
Fisika = 90 Bahasa Inggris = 90 Matematika = 35 TIDAK LULUS, apa pendapat anda ? |
Re: Sistem Kelulusan UN
artinya 'PERCOBAAN' kebijakan system pendidikan tidak berhasil dan harus 'DICOBA' lagi dg system yang lain.. toh korbannya 'CUMA' anak-anak dan para ortunya yg notabene 'CUMA' rakyat biasa..:eek: yang penting para pejabatnya gak 'RUGI' :bad:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
tapi kasihan juga tuh anak-anak yang pada ngak lulus, padahal ada juga yang Penelusuran bakat dan minat di PT.
|
Re: Sistem Kelulusan UN
tapi kasihan juga tuh anak-anak yang pada ngak lulus, padahal ada juga yang lulus Penelusuran bakat dan minat di PT.
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
sindirannya dalam aja nagk bikin para pejabatnya sadar, apalagi sindiran biasa bro.
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Kalo gue jadi Menteri Pendidikan Indonesia bukan Negara BBM ya ... cieee, murid itu gue lulusin, BUT ... untuk ngelanjutin ke tehnik kaga bisa karena matematika jeblok :questions:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
jurusan teknik sepi dong bro, berarti kedokteran masih boleh masuk ya bro???:D :D :D
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Matematika jeblok jadi dokter, salah2 yg ada salah operasi dokternya, maunya potong atas, yg dipotong bawahnya, penyesalan seumur hidup lah :eek: :D
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
sptnya ini menjadi menu "wajib" jika seorg pejabat di tingkat pendidikan berganti, kl inget jaman dulu pernah ada pengunduran kenaikan kelas yg digeser dr desember ke juni dan kebijakan2 spt yg ada skrg ini...setuju dgn pendapat rekan2 dimana butuh waktu utk menerapkan sebuah kebijakan baru:congrats:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Terlepas dari adanya kekurangan dari para pelaksana pendidikan dan penguasa kita, saya pribadi sih setuju saja ada standard nilai tertentu yg harus dilewati semua siswa. Kalau tidak, bagaimana kualitas pendidikan kita mau maju.
Kalau saya lihat di TV, banyak siswa yg tidak lulus pada protes, bahkan ada satu kalimat yg (menurut saya) sangat lucu yg terlontar dari siswa seperti: "Hasil belajar 3 tahun lenyap karena ujian 3 jam" (kira2 begitu lah.. lupa detailnya). Kenapa saya anggap lucu? Coba anda semua bayangkan, kalau anda ikut UMPTN, sebetulnya sama saja kan? Kita belajar dari mulai SD malah, 12 TAHUN !!! lenyap begitu saja karena UMPTN tidak lulus. Apakah ini tidak adil? Menurut saya justru disini letak keadilannya. Orang2 yg sudah bersusah payah belajarlah yg memang layak untuk mendapat kursi tsb (terlepas dari berbakat atau tidaknya seseorang di bidang yg diambilnya tsb). Lebih jauh lagi, di dunia kerja. Bukankah begitu banyak lulusan SD, SMP, SMA, D3, S1, S2, bahkan S3 bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Tetap ada seleksi bukan? Yg terbaiklah yg dipilih oleh perusahaan2 tsb. Ini menurut saya sudah menjadi hukum alam. So... bagi saya adalah sangat konyol ketika ada cerita anak SMA membakar sekolahnya karena tidak lulus UN, bahkan ada yg depresi dan bunuh diri. Ini menunjukkan bahwa mereka belum siap untuk dewasa dan belum siap untuk menghadapi "dunia" yg sebenarnya, penuh dgn persaingan. Bagaimana anak2 seperti ini bisa diharapkan untuk membangun negeri yg sedang terpuruk? Bahkan untuk mengontrol diri sendiri saja tidak bisa. Coba kita liat kebelakang ketika jaman kita dahulu Ebtanas hanya sekedar formalitas, apa hasilnya? Ya kita2 ini lah yg ternyata kurang bisa bersaing dgn negara lain. Menurut saya, ujian2 seperti ini sangat perlu utk meningkatkan mutu pendidikan di negara kita. Mengenai standard nilai dan mata pelajaran yg wajib lulus dll mungkin perlu difikirkan lagi agar anak2 yg berbakat di bidang lain yg mungkin pelajaran seperti matematika tidak terlalu penting (contohnya dunia seni mungkin) tetap dapat lulus dan melanjutkan kuliah atau bekerja di bidang yg di kuasainya. Demikian menurut pendapat saya, mohon maaf jika ada kata2 yg salah. |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Ada 1 anak namanya Joni, sehat jasmani dan rohani karena orang tua mampu membeli makanan bergizi, jadi murid di SMP mahal di Jakarta yg semua gurunya lulusan S1, sekolah dilengkapi dgn lab. fisika, kimia, biologi, matematika dan bahasa. Gaji guru di sekolah Joni cukup besar, jadi sang guru yg perlu sibuk cari sampingan dgn ngajar di banyak sekolah. Ada 1 anak lagi namanya Udin, kurang sehat jasmani dan rohani karena orang tua hanya mampu kasih makan sekali hari, jadi murid di SMP pedalaman Kalimantan, yg sekolahnya nyaris rubuh dan sering banjir. Tak satu pun gurunya yg sarjana, kebanyakan hanya lulusan SPG. Gaji gurunya hanya cukup buat seminggu, terpaksa sang guru ngajar di empat sekolah. Perhatian terhadap SMP tempat Udin belajar mau tidak mau agak kurang. Adilkah kalau si Joni dan si Udin, di test dgn soal dan standart yg sama untuk menentukan siapa yg lulus dan siapa yg tidak lulus? Satu lagi .... Tiga hari setelah gempa melanda Bantul dan Klaten, anak-anak SD disana tetap "dipaksa" untuk ikut UAN. Rumah hancur, baju sekolah tidak ada, alat tulis tidak ada. Jangankan belajar, tidur pun mereka tidak bisa. Adilkah kalau anak-anak Bantul dan Klaten ini di test dgn soal dan standart yg sama dengan anak-anak lain yg daerahnya tidak kena gempa? Menurut saya standarisasi dalam dunia pendidikan sangat penting, tapi jgn hanya standarisasi ujian akhirnya saja. Proses pendidikannya juga harus distandarkan, mulai dari kualitas guru, fasilitas sekolah dan lain-lain. Kalau kualitas proses pendidikan di tiap daerah sudah merata, baru boleh kita bicara ujian nasional yg distandartkan. Thanks Gaga |
Re: Sistem Kelulusan UN
Ini menjadi pelajaran bagi kita para orang tua menyikapi adanya UAN...Memilih sekolah yang pas untuk anak2 adalah hal yang penting, terlepas dari mahal dan bagus atau tidaknya disekolah tsb...Coba bayangkan saya dengar ada beberapa sekolah yang tidak seorangpun muridnya lulus UAN, lha selama 3 tahun mereka ngapain saja, pasti ada yang tidak beres dalam sistim pendidikan ditempat tsb...? Untuk sekolah macam ini rasanya patut untuk dibubarkan agar para murid tidak sia2 buang waktu dan biaya untuk menghidupi sekolah tsb...Soal lulus dan tidak lulus ujian sekolah/nasional dari jaman dulu sudah ada dan itu biasa karena ada anak yang rajin belajar dan malas belajar, hanya kini jadi heboh karena persentasenya yang tidak wajar....Saya setuju dengan pendapat bro Gaga soal standarisasi pelajaran/pendidikan dan saya juga setuju dengan pendapat Adipur bahwa anak2 jangan dibuat cengeng dan manja....:) ...
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Bagaimana komentar kita tentang soal UAN yg selalu bocor dari tahun ke tahun? Anak kita kita yg sudah pontang panting belajar hanya dapat nilai 6,5, sedangkan anak lain santai-santai main layangan tapi dapat nilai 10 karena megang bocoran soal. Bagaimana pula komentar kita tentang guru-guru yg membantu siswanya menjawab soal UAN, karena kepala sekolah (bahkan kepala daerah) akan marah kalau prosentase yg tidak lulus di sekolah/di daerah tertentu angkanya besar. Saya dulu kuliah di IKIP, pernah menjadi guru dan dosen. Salah satu sebab saya frustasi dan berhenti adalah karena pemerintah hanya memperhatikan hasil pendidikan tapi tidak pernah memperhatikan prosesnya. Yang jadi menteri pendidikan selalu militer, teknokrat dan pengusaha. Ngga ada menteri pendidikan kita yg latar belakangnya dari dunia pendidikan. Terus terang saya rada "malu" mendengar komentar Yusuf Kala dan Abu Rizal Bakri tentang hasil UAN. Komentar mereka semakin memperjelas latar belakang mereka sebagai "bisnis man" yg hanya peduli pada hasil tapi tak pernah mau berfikir tentang proses. Thanks Gaga |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Kembali ke topik semula, kalau tidak salah materi UAN tahun ini adalah 3 mata pelajaran yaitu : Bahasa Indonsia, Bahasa Inggris dan Matematika. Kalau Bhs Indonesia 90 Bhs Inggris 90 dan Matematika 35 maka seharusnya nilai UAN nya adalah 7,1 dan ini pasti lulus, kecuali bila ditetapkan dimata pelajaran tsb tidak boleh ada angka dibawah 4,25 (batas nilai UAN ).... Pusing juga membayangkan ketiga nilai tsb bisa dibawah 4,25..ada yang salah nih entah apanya kalau mengingat ketiga mata pelajaran tsb diajarkan selama 3 tahun disekolah...pakar pendidikan mesti turun tangan....:) .... |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Saya lebih menyorot ke arah perlunya standardisasi kelulusan supaya outputnya bagus, tidak asal lulus (karena topik awalnya menyorot kesini), karena terkesan banyak pihak yg mengharapkan tidak perlu ada standard nilai tertentu untuk lulus SMP dan SMA. Gak adil donk, anak2 kelas 1 dan kelas 2 bisa gak naik kelas, tapi yg kelas tiga PASTI LULUS. Kayaknya kelas 3 itu udah titik aman, gak mungkin gak naek kelas. Serasa ikutan kuis Who Wants to be a milliioner aja ada titik amannya. Mengenai anak2 korban bencana sih saya setuju kalau ada keringanan, karena memang kondisinya tidak memungkinkan. Tapi utk yg lain, apalagi yg di kota2 besar seperti jakarta, gak lucu kalau masih manja pengen gak ada standardisasi kelulusan padahal di sekolah kerjaan tiap hari cuman merancang mau tawuran sama sekolah mana lagi... :D Mungkin terlihat tidak adil melihat kenyataan bahwa kualitas guru dan fasilitas sekolah masih tidak merata, tapi kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi donk? Kalau menunggu kualitasnya merata mah gak mulai2 bos. Mendingan berjalan paralel saja, membenahi sarana dan prasarana, tetapi standardisasi kelulusan juga tetap dijalankan, sebagai pembelajaran bahwa nanti dunia kerjapun bakal seperti ini, tetap ada seleksi. Sehingga mereka terpacu utk memberikan yg terbaik. Saya sempat berdiskusi dgn seorang rekan, dia bertanya, setuju gak kalau standard kelulusan ditetapkan oleh sekolah masing2, atau daerah masing2 mengingat tidak seragamnya sarana dan prasarana sekolah. Saya jawabnya simple saja, kalau dibuat begitu, bisa jadi soal2nya dibuat supaya anak2nya lulus semua donk. Yg menjadi kekhawatiran saya adalah begitu mereka menginjak dunia kerja, mereka baru menyadari kalau sebenarnya mereka itu jago kandang. Ranking 1 di daerahnya, tapi begitu ke daerah lain babak belur. Ini malah membuat masa depan mereka lebih hancur lagi menurut saya sih. Saya rasa kita semua sudah melihat bukti nyata dari kasus ini kan? |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Standarisari memang penting untuk mewujudkan kwalitas yang merata bagi anak-anak negri ini. |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Nilai UAN itu tidak dilihat dari rata-ratanya. Kalau matematika-nya 4,25 maka siswa tsb dinyatakan tidak lulus, walaupun nilai bahasa Indonesia dan bahasa Inggrisnya diatas 10. Thanks Gaga |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Kenapa sih yg dibuat harus standarisasi kelulusan? Kenapa yg dibuat bukan standarisasi proses belajar/mengajar? Karena saya sangat yakin kalau proses belajar mengajar berjalan dgn baik, maka pasti hasilnya akan baik pula. Mau UAN seminggu tiga kali, tapi kalau kualitas pendidikan kita masih begini, tetep aja semuanya pada jadi jago kandang. Thanks Gaga |
Re: Sistem Kelulusan UN
:suer: :suer: sabar mas.. :suer: :suer:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Soalnya banyak orang yg mengira kualitas pendidikan cukup dijaga di hilirnya saja, tanpa pernah berfikir tentang kondisi hulu:D:D:D |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Karena begitulah dunia ini, ada yg pintar ada yg goblok, ada yg miskin adapula yg kaya. Mulai yg paling kecil standarisasi kalau seperti yg Bos Gaga contohin masalah diatas si Udin dan si Joni, orang tua juga bertanggung jawab untuk standarisasi pendidikan anak2nya, udah tau penghasilan pas2 punya anak juga banyak, pemerintah selain sistem pendidikan, juga bertanggung jawab ama kesejahteraan rakyatnya termasuk orang tua si Udin. Piala Dunia ini sekarang ini, apa harus dibedain standardnya antara negara Eropa dan Asia, di poor 2 gitu sistem kemenangannya :confused: . Maksud gw, ngomongin standardisasi gak gampang, blm standarisasi dari keluarga, daerah, satu negara blm lagi standarisasi global seluruh dunia Dan menurut gw yg paling penting semuanya adalah balik lagi ke si murid sendiri, kalau memang dasarnya pintar, kondisi sesulit apapun dia akan sukses, sebaliknya kalau dasarnya goblok dan gak ada kemauan dan niat, fasilitas seabrek juga gak menolong, paling2 juga kerja diperusahaan babenya. Banyak orang sukses dan pintar bukan dari fasilitas dan kondisi yg mendukungnya, tetapi karena memang pada dasarnya ia memang pintar, dan memang garis nasibnya dia pintar dan menjadi sukses |
Re: Sistem Kelulusan UN
Keadaan negara kita memang begini adanya bos, mau gimana lagi. lebih baik kita cari solusinya dari kita masing2, yg mampu sekolahin aja anknya ke luar, kalo udah sukses balik ke indo. Yg gak mampu, banyakin waktunya buat ngarahin dan ngajarin anaknya :idea: :congrats:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Nasi sudah jadi bubur, yang tidak lulus harus berpikir positif untuk dirinya masing2, menurut menpendik UAN tidak akan diulang...melihat acara metroTV semalam, sungguh memprihatinkan. Orang tua murid harus siap2 mulai sekarang, prioritaskan hanya 3 mata pelajaran kalau mau lulus UAN. Bagaimanapun selembar ijazah masih menjadi patokan kalau ingin terus melanjutkan ketingkat lebih tinggi..... Nasib, nasib...sabar yo nduk..sabar yo nduk...(melihat tayangan metroTV anak gadis yang tidak lulus UAN disemarang)......:cry: ...
|
Re: Sistem Kelulusan UN
Yg gw heran kenapa pada protesnya sekarang ya, kenapa gak waktu diumumin rencana penetapan standard kelulusan itu ya :eek: :confused:
|
Re: Sistem Kelulusan UN
ikutan nimbrung ah....
Menurut ogut standar penilaian itu mesti tetap ada, kalaupun ada kondisi daerah yang berbeda hal itu masih dalam tahapan wajar karena standar nilainya itu masih di bawah lima...di rapot aja nilai 5 semua bisa-bisa ga naik kelas...tapi di ujian nasional kalo masih sedikit di atas standar berarti lulus. Namun kalo ada kejadian luar biasa (seperti gempa) tentunya ada keistimewaan tersendiri karena pada saat ujian ga cuma otak aja yang bekerja tapi juga mental...gimana biar tetap tenang. Mengenai standar penilaian per mata pelajaran menurut gua juga wajar karena setiap peserta didik memang dituntut memiliki kemampuan itu di masa datang. Misal pelajaran lainnya nilai sempurna tapi di matematik jeblok...dan terus jika secara kumulatif dinyatakan lulus dan bisa kuliah di fakultas teknik...gimana jadinya pas udah dapet gelar sarjana wong matematikanya aja dasarnya uda ga bisa. terus misalkan matematika dan fisikanya sempurna tapi bahasa indonesianya nol...gimana jadinya kalau dia nantinya harus nyusun skripsi...paling-palingan jadi plagiat. Pemerintah dalam hal ini juga salah tapi bukan karena mengadakan ujian nasional yang dikatakan melanggar HAM (kalo semuanya dibilang melanggar HAM maka teroris yang dihukum mati juga bisa dikatakan melanggar HAM karena menghilangkan nyawa orang lain kalo begitu bagaimana...) melainkan karena tidak mempersiapkan prasarana dan sarana yang dibutuhkan untuk pendidikan yang baik. Pemerintah berkewajiban mempersiapkan para pendidik untuk kompeten di bidangnya. Meskipun demikian ujian "ulangan" harus tetap ada, karena yang namanya manusia waktu tes itu kondisinya bisa bermacam-macam...ada yang gelisah...sedang sakit...atau ada hal-hal yang di luar kekuasaannya yang sangat mengganggu pada saat pengerjaan ujiannya. Dengan alasan apapun ujian nasional tetap harus ada kalo ga buat apa belajar tiga tahun...apa buat pacaran dan pergaulan aja. Semua butuh proses. Jalan memang berlubang tapi memang harus dilewati dan jangan hanya berhenti di tengah jalan apalagi berbalik arah kalo itu sih namanya.....kurang bervisi ke depan :) :) |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Kita juga punya UU Tentang HAM yang mengatakan bahwa mendapatkan pendidikan yang layak adalah bagian dari HAM dan hak ini tidak dapat dikurangi dalam kondisi apa pun oleh siapa pun. Jadi sebetulnya negara menjamin setiap anak mendapat pendidikan yang layak tidak perduli dia kaya atau miskin. Hal ini di amanatkan dalam UUD. Thanks Gaga |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Lihat Metro TV semalam, ada sekolah didaerah yang musridnya tinggal nyalin, jawaban tinggal nyontek dari sms HP dan dibetulin guru...rusak...rusak...:mad: ... |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Yang saya tahu protes terhadap system UAN ini sudah dilakukan sejak dulu. Tapi sayangnya pemerintah tetap kukuh dgn keputusannya. Sekarang protes thd UAN kembali merebak karena melihat anak-anak kurang beruntung di Manokwari, pedalaman Kalimantan dan pedalaman Sumatera "dipaksa" berkompetisi dgn soal yg sama dgn anak-anak yg lebih beruntung. Bahkan anak-anak yg baru saja dilanda gempa, banjir dan longsor juga "dipaksa" berkompetisi dgn soal yg sama dengan anak-anak Al Azhar, Al Izhar, Muhamadiyah, PSKD, Penabur dan Don Bosco yg ada di Jakarta. Protes juga muncul karena soal UAN "dibocorkan" secara terang-terangan. Secara terang-terangan pula para guru mengaku telah membantu murid-muridnya dalam menjawab soal-soal dalam UAN. Thanks Gaga |
Re: Sistem Kelulusan UN
Quote:
Yg ada ya begini nasi jadi bubur, yg protes sebelum dan lulus ujian lalu gak protes lagi. Yg gak lulus, yg sebelumnya protes dan yg yg sebelumnya gak protes sekarang protes demo rame, pemerintah gak ada atau kurang tekanannya, karena lebih banyak yg gak protes daripada yg protes |
Re: Sistem Kelulusan UN
lhooo ... ketinggalan topik hangat nich .... :p
menurutku, standarisasi itu sangat penting, tp mengingat negara kita kepulauan dgn bermacam2 suku dan kebudayaan, tentu akan sulit. Mungkin akan jauh lebih baik jika standarisasi pendidikan lebih ditekankan kpd masing2 propinsi atau daerah dan dikelola oleh masing2 pemda tp harus tetap diawasi oleh pemerintah pusat. |
| All times are GMT +7. The time now is 02:09 PM. |
Powered by vBulletin® Version 3.6.5
Copyright ©2000 - 2026, Jelsoft Enterprises Ltd.
N1wanRed.com